Aceh Dalam Budaya Ngopi

Budaya Turun-Temurun

Aceh dan budaya minum kopi seperti halnya Jepang dengan budaya minum teh yang mengandung nilai seni di dalamnya dari tahap pengolahan hingga dalam hal penyajian. Budaya minum kopi atau bagi mayoritas masyarakat Aceh disebut “ngopi” sudah sangat membudaya dan dianggap sebagai kebiasaan turun temurun dan tetap dipertahankan hingga kini.

Beberapa faktor yang membuat para pecinta kopi rela berjam-­jam “ngopi” adalah suasana kafe yang disetting oleh pemilik kafe menjadi semenarik mungkin dengan ornamen dan fasilitas internet. Selain itu, varian kopi yang disediakan oleh pemilik kafe atau warung kopi cenderung beragam dan dapat dipesan sesuai dengan selera penikmat kopi. Bahkan, saat ini juga memasukkan selera atau taste internasional ke dalam cita rasa kopi yang diracik untuk menambah aneka rasa yang di tawarkan.

Bukan Sekedar Ngopi

Bagi masyarakat Aceh budaya ngopi yang dulu hanya identik dengan laki laki dan biasanya berusia tua. Kini “ngopi” telah menjalar dan menular ke semua kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pejabat tinggi pemerintahan dan bukan lagi ranah ekslusif laki-­laki, karena “ngopi” kini juga diminati kalangan perempuan Aceh khususnya di kota­-kota besar.

Menjamurnya kafe dan warung kopi dari sisi ekonomi dan bisnis dapat dilihat sebagai sebuah kemajuan dan terobosan baru bagi Aceh untuk bangkit dari kelesuan ekonomi. Kopi jadi menu andalan yang dicari oleh wisatawan yang ingin merasakan sensasi “ngopi” di Aceh, baik itu di kafe atau pun di warung kopi tradisional yang mudah ditemukan di banyak titik Kota Banda Aceh. Dengan bahasa berbeda kopi dapat dikatakan sebagai sebuah pemersatu berbagai kalangan dalam identitas yang sama.

Penulis meyakini bahwa budaya “ngopi” adalah tradisi yang baik dan harus dilestarikan. Hanya di Aceh, kebiasaan “ngopi” memperoleh ruang untuk disalurkan karena budaya “ngopi” di Aceh tidak mengenal waktu, dari pagi hingga malam setiap kafe atau warung kopi pasti dipenuhi oleh pelanggan setia yang berlama-­lama “nongkrong” di warung kopi sekedar hanya bersantai atau mendiskusikan persoalan sosial, ekonomi, dan politik dengan sahabat atau kolega. Informasi tentang pekerjaan, menambah jaringan pertemanan dan lainnya dapat dilakukan di kafe atau warung kopi di Aceh.

Meskipun demikian, dampak buruk dari “ngopi” juga membayangi penikmat kopi diantaranya waktu dan uang yang habis untuk memenuhi hobi “ngopi” yang tidak terkontrol dan seperti yang diungkapkan banyak artikel kesehatan kopi mengandung tinggi kafein yang bisa mengakibatkan susah tidur atau insomnia. Oleh karena itu, penikmat budaya “ngopi” harus lebih bijak dalam menjalankan kebiasaan “ngopi” yang sehat dan bermanfaat. Mari “ngopi”!

Related Posts

Add Comment