Belajar dari Kelapa Sawit: Hasrat, Mudharat, dan Manfaat

Hari ini aku belajar pada makhluk Tuhan, kelapa sawit. Sebelum mengeluarkan artikel ini, terpikir bagaimana cara aku menjelaskan jika ada yang tanya, “Bro, uda ga waras ya? belajar itu sama orang, bukan sama pohon”. Haha saudaraku yang baik hatinya, sesungguhnya semua makhluk itu bisa dijadikan pembelajaran. Kita dapat berguru darinya, mengambil sisi positif darinya dan menjadikan aspek tersebut sebagai tindakan yang diridhai oleh sang pencipta.

Beranjak dari itu semua, lantas terbesit dalam benakku, “makhluk ini memberikan manfaat sekaligus kemudharatan bagi manusia”. Yang manakah baik diantara keduanya? Jelas anda menjawab “manfaat” secara spontan.

Mudharat dan Manfaat

Ketika banjir melanda dan cuaca membuat manusia kian gerah, kelapa sawit disalahkan. Mereka menyebutnya sebagai makhluk penghisap darah tanpa memuntahkan darah tersebut sama sekali.

Bukan tanpa penjelasan, ia menghisap air dengan kuantitas yang tidak sedikit. Sejatinya pohon pada umumnya menghasilkan air dan memberikan kesejukan kepada makhluk sekitar. Tapi tidak dengan kelapa sawit. Ia meminumnya dengan rakus dan menelan untuk dirinya sendiri.

Apakah ada manfaat dari pohon berduri ini? Apakah ia hanya melukai tangan petani sawit dengan durinya? Apakah ia hanya merusak alam dengan keberadaannya? Lantas lebih dominan mana? manfaat atau mudharat?

Ketahuilah, Nagan Raya tanah kelahiran saya. Berdiri pada tahun 2002, dengan luas 33 ribu 64 kilometer persegi.
Lahan kelapa sawit sendiri telah menduduki Nagan seluas 19 ribu 685 hektar. Bisa dikatakan seluas 0,06 wilayah ini dihuni oleh kelapa sawit. Layaknya tanah Gayo dengan lahan kopinya, Masyarakat Nagan  menghasilkan nasi melalui kelapa sawit.

Jika anda bertanya bagaimana bisa? Tanyakan kepada pegawai, bagaimana mereka menghasilkan nasi dengan kerjaannya di kantoran. Begitulah analogi kelapa sawit yang telah lama menjadi mata pencaharian masyarakat Nagan.

Lihat saja para penguasa di wilayah ini seperti telah menjadi wajib akan kepemilikan terhadap lahan sawit. Mereka bisa menjadi apa saja karena penghasilan makhluk ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa manfaat lebih dominan dari kemudharatan oleh makhluk Tuhan ini. Lalu haruskah pemerintah menyalahkan keberadaannya? Haruskah makhluk ini ditumbangkan? Saya sama sekali tidak berfikir seperti itu.

Hasrat Kelapa Sawit

pupuk kelapa sawit

pemupukan kelapa sawit

Hari ini aku juga memupukinya. Menaburkan benih NPK dengan penuh kehati-hatian. Berharap ia akan tumbuh menjulang dan menyentuh awan. Belum lama aku menebar pupuk ke segala penjuru, terdengar suara sayup-sayup menghampiriku, “lagi mupuk ya dik? Wah pupuk ini bagus loh, saya juga pakai” pungkasnya.

Rasa penasaran menghampiriku, refleksiku untuk membaca tulisan yang tertera pada kemasan pupuk. Tertulis kandungan Nitrogen, Phosphor, dan Kalium masing-masing memiliki kadar 10%. Sekarang aku jadi paham bahwa tiga hal ini sangat dibutuhkan kelapa sawit disamping asupan air.

Tak terasa sudah 5 tahun ia berdiri kokoh di tanah Tuhan. Ia juga telah menghasilkan banyak rezeki bagi sang pemeliharanya. Namun hasratnya juga tak bisa dibendung. Ia ingin terus tinggi dan menghasilkan banyak buah.

Bila ia telah beranjak tinggi semeter, ia ingin dua meter, tiga bahkan menjulang tinggi sampai benar-benar dia rapuh dan tidak menghasilkan lagi. Ia juga minta nutrisi yang tidak sedikit. Ia tidak ingin diganggu oleh keberadaan rumput, merasa begitu terusik dan harus dimusnahkan benalu tersebut. Begitulah hasrat kelapa sawit yang tak bisa terpuaskan.

Sama halnya dengan manusia. Apabila manusia telah berada pada suatu pencapaian, maka ia ingin pencapaian yang lebih berarti lagi. Bila manusia telah memiliki lahan sawit sepuluh hektar, maka ia menginkannya ratusan hektar. Bila angka ratusan telah tercapai, ia menginkan nilai ribuan. Begitulah seterusnya.

Manusia yang bisa membeli mobil, dia tidak akan pernah puas dengan mobilnya itu. Selanjutnya dia akan berpikir bagaimana cara memiliki kapal selam, jet pribadi, membeli gunung, pulau, bahkan negeri berpenghuni yang harus ia rajai. Maka saya sama sekali tidak setuju bila ada yang mengatakan hasrat bisa terpuaskan.

Untuk contoh yang sederhana saja, ketika anda dilandai rasa bosan. Apa yang akan anda lakukan? Berlarut-larut dalam kebosanan tersebut atau mencari jalan untuk menghilangkan rasa bosan tersebut? Tentu saja pilihan kedua menjadi alternatif anda. Ini menandai bahwa manusia memiliki hasrat. Layaknya kelapa sawit makhluk Tuhan yang menghidupi manusia.

Saudara saya, kembali saya menanyakan, yang manakan baik antara keduanya? mudharat atau manfaat? atau hasrat yang harus selalu dituruti? Nabi saw berkata:

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Biarkan saja bila manfaat tersebut tidak dikenang. Karena hakikatnya manusia lebih mengingat kemudharatan yang kita perbuat dibandingkan manfaat yang kita ciptakan. Hasrat bukanlah suatu hal yang harus selalu dituruti. Kecuali hasrat untuk memperbaiki diri dan menghamba kepada sang pemilik alam semesta, Allah Azza wa Jalla.

Tags:

Related Posts

Add Comment