Aku Manusia Setengah-Setengah

Belakangan ini, mata kiriku bergetar kencang tak karuan. Aku rasa ini bukan masalah yang serius. Tapi makin hari ia bergetar semakin kencang. Spontan aku menanyakan masalah ini kepada teman kuliahku. Katanya komponen sarafku sedang bermasalah, dan aku merasakan kecemasan yang mendalam.

Sepulang dari kampus yang telah kutempati selama 4 tahun 1 bulan 17 hari, aku semakin penasaran untuk menerawang masalah ini lebih dalam. Sama sekali aku tidak mau ambil resiko terhadap salah satu aset berharga dari tuhan ini. Apalagi beberapa saat yang lalu aku divonis rabun jauh dan memaksakan kedua mataku dipasangi lensa minus dengan angka -0,75.

Kata kunci “penyebab mata bergetar sebelah” pun aku tuliskan di kolom pencarian google. 20 ribu hasil pencarian muncul di layar smartphoneku, aku membuka tulisan pertama, dengan judul “Penyebab Mata Kedutan dan Cara Menghentikannya”.

penyakit said ramadhani

Mata berkedip sebelah

Baca Juga: Belajar dari Kelapa Sawit: Hasrat, Mudharat, dan Manfaat

Seolah tersinkron dengan sangat serasi, mataku semakin berkedip selaras dengan detak jantungku. Harap-harap cemas, aku membaca penjelasan tulisan pertama dengan begitu fokus, layaknya fokus  sebuah kamera DSLR terhadap objek bidikannya.

Yang benar saja! Aku rasa tulisan pertama ini ngawur. Tab tersebut aku tutup dan kuteruskan membaca artikel urutan kedua di google. Masih juga merasa kurang puas, artikel ketiga dan keempat turut aku perhatikan.

Tak jauh beda, aku mendapatkan kesimpulan yang sama. Terlalu banyak begadang menjadi pemicu masalah ini, istirahat yang cukup menjadi jalan keluar untuk menghentikan kedipan mata.

Otakku seperti terkuras, memaksa mengingat kapan terakhir kali aku begadang. Masih kupaksakan ia untuk mengingat. Dan akhirnya aku ingat, saat membuat tulisan ini aku dalam aktivitas begadang. Angka digital pada layar smartphoneku menunjukkan angka 3 AM, sama sekali aku belum memejamkan mataku dari kemarin pagi.

Saat ini lagu begadang milik Rhoma Irama menjadi teman pendamping dikala aku berada dalam kesendirianku dalam kamar tidur yang berukuran 3×3.

Informasi: Pahlawan yang Terabaikan

Seperti ditampar oleh bang haji, sampai pada lirik “begadang boleh saja, kalau ada perlunya”, aku menekan tombol spasi pada keyboard laptopku untuk menghentikan lagu tersebut. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Setiap malam aku menghabiskan waktuku sampai pagi. Hasil apa yang telah aku dapatkan? Aku tersadar dan menyesal.

Aku melewatkan kesempatanku untuk wisuda pada februari 2018. Aku melewatkan jadwal pengajuan proposal Tugas Akhirku. Sampai aku menunda kesempatan ini dalam waktu yang tidak bisa kupastikan.

Aku tersadar semua begitu jauh. Dengan Tuhan pun aku jauh, apalagi dengan ilmu komputer yang seharusnya aku kuasai. Aplikasi android studio pun aku buka, yang seharusnya aku pahami untuk penyelesaian tugas akhirku. Ketika layar kosong muncul dihadapanku, pikiran ku ikut kosong.

programmer gagal

Android Studio

Kehilangan arah apa yang harus kulakukan. Sama sekali tidak tahu, kebuntuan membuatku putus asa. Perintah didalamnya pun aku tak tahu, apalagi memahami koding didalamnya. Aku merasakan pukulan yang sangat keras.

Semua yang telah ku pelajari dikampus tak ada yang membekas di otakku. Masih teringat ketika dosen mengatakan kepadaku, “Saya putus asa ngajarin kamu, kalibrasi aja kamu gak bisa. Kamu sama sekali tidak mau berusaha dan tidak mau tahu apa masalahmu”. Aku sempat membencinya dan merasa tidak nyaman dengan kata tersebut. Namun kini aku tahu makna yang diucapkan si dosen tersebut. Aku sangat berterima kasih kepadanya, aku jadi tahu masalahku.

Selama ini aku merasa dalam kondisi aman, padahal aku berada dalam kondisi memprihatinkan

said ramadhani

My Quote

Ternyata aku tidak bisa apa-apa, kubuka laci lemari. Aku melihat apa yang telah orang hargai terhadap pencapaianku selama ini. Ternyata tidak ada sama sekali, tidak ada yang patut dibanggakan. Cuma sertifikat ospek dan seminar kuliah, yang semua orang  juga punya, nothing special!

Aku merebahkan tubuhku, “ngapain aja aku selama ini”? Aku melupakan tujuanku mengapa berada ditempat ini. Aku sama sekali tidak memikirkan hal apa yang akan kuhadapi kedepan, bila satu masalah saja tidak bisa ku taklukkan. Setiap hari aku mendapatkan motivasi dan petuah dari orang-orang terdekatku.

Mereka terlalu bersemangat dan terlalu yakin aku akan bisa menyelesaikan kuliahku. Mereka memiliki semangat melebihi semangatku. Bahkan ada yang menawarkan untuk membantu mengerjakan skripsiku. Namun sedikitpun aku tidak ambil pusing dengannya, aku masih berada dalam posisi nyaman saat ini.

Dan aku sama sekali tidak ingin keluar dari zona nyamanku. Hingga suatu saat nanti aku akan menyesali dan meratapi keputusan yang sudah kuambil saat ini. Aku gagal dan aku hancur, tidak punya tujuan hidup.

Sampai mati pun, namaku tidak akan dikenang banyak orang dan dilupakan begitu saja.

Kembali aku menuliskan kata “tersadar” pada artikel ini, terhitung sudah tiga kali aku menuliskannya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sadar akan tujuanku, niat saja tidak cukup untuk menggapai anganku. Semua butuh usaha dan pengorbanan, aku tidak bisa terus larut dalam zona nyaman ku. Seharusnya aku larut dalam doa dan usaha untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Manusia Setengah-Setengah

Jaman sekarang jangankan cari uang dengan cara halal, pakai cara haram aja susah

Anda ingin mendapatkan uang dengan cara main judi, maka diharuskan untuk mengundi nasib terlebih dahulu. Ingin merampok, maka dihadapkan dengan segerombolan intel yang terus memata-matai. Menjadi kaya dengan mencuri, maka resiko digebukin warga terus mambayangi setiap langkah.

Beberapa cara haram diatas sangat susah dilakukan untuk mendapatkan uang.

Belum lagi bicara masalah halal, anda ingin membangun bisnis mulai dari nol. Maka beberapa masalah sudah pasti alami dalam proses usaha tersebut. Bangkrut menjadi salah satu resiko yang mungkin akan anda hadapi. Bila anda ingin meraih tujuan dalam hidup, maka bersungguh-sungguhlah dan konsisten.

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS. Ghafir: 60)

Semua pilihan kembali pada diri masing-masing. Terserah kita menjadi manusia yang mempunyai ambisi dan tujuan yang keras. Ataupun terus menjadi manusia setengah-setengah.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menggurui pembaca, melainkan kepada penulis. Berisi ungkapan aib diri-sendiri sehingga bila saya kehilangan motivasi, barangkali tulisan ini menjadi pengingat bagi saya.

Tags:

Related Posts

Add Comment