Mari Wujudkan Pilkada Damai di Nagan Raya

Saya hanya bisa memantau dari kejauhan, menelusuri perkembangan Pilkada di kabupaten tempat saya lahir, Nagan Raya. Belakangan ini saya mendapati kabar, tepatnya tgl 26 januari 2017 KIP Nagan Raya menyelenggarakan debat kandidat cabup/cawabup di kabupaten yang mendunia dengan batu gioknya beberapa waktu lalu.

Dari kelima kandidat yang mengikuti debat paslon, semua terlihat sangat santai dan bersikap saling terbuka dalam menjalani debat, akan tetapi sangat disayangkan, malah pihak pendukung yang dikabarkan sempat ricuh. Pada halaman serambi edisi 26 januari 2017, para pendukung masing-masing calon dikabarkan terlalu bersemangat sehingga jalnnya debat sempat ricuh dan terganggu.

debat nagan raya ricuh

Bahkan petugas keamanan harus ikut andil dalam menenangkan massa yang dinilai belum bisa bersikap dewasa dan bersaing secara sehat dalam ajang pesta rakyat. Ya begitulah, anggap saja ini hanya bumbu “asam keueung” dalam Pilkada Nagan.

Baca juga: Makna Rameune yang sebenarnya

Setelah debat selesai, muncullah beberapa spekulasi yang saling menjatuhkan di media. Masing-masing pendukung merasa paling benar, menghasut publik dengan menyebarkan berita hoax yang sama sekali tidak terbukti kebenarannya. Saling tebar benci di media terus berlanjut, bahkan situs berita populer juga ikutan menghasut massa melalui statement yang mempengaruhi pembacanya.

Hingga opini ini diterbitkan, pertengkaran sedang berlangsung di berbagai forum diskusi online Nagan Raya, yang katanya penuh dengan intelektual dan persaingan politik secara sehat. Akan tetapi tak sedikit pernyataan yang diutarakan anggota forum tergolong sakit dan jauh dari kata sehat.

Kenapa harus saling menghujat? Apakah pertengkaran ini tidak bisa diredam? Masihkah kita ingat hadits rasul?

“Tinggallah perdebatan meskipun kamu berada di pihak yang benar”

Enggan Bertutur Sapa

Dulu kita berteman begitu erat, tidak ada rintangan yang terasa berat, karena kita “saboh pakat” hingga kita merasa begitu kokoh dan kuat.
Namun realita berkata lain, aku TRK kamu JADIN, kamu MuSa Aku CAHAYA. Sayang beribu sayang, persahabatan kita seolah bisa dipecahkan oleh sebatas perbedaan warna, menebar kebencian seolah menjadi hobi bagi kita. Apa salahnya kita saling akur seperti dahulu? Anggap saja ini hanya sebatas warna favorit, bukan malah jadi permusuhan yang terus berlanjut diantara kita. Hingga kamu dan aku saling bertutur sapa seperti dahulu.

Wujudkan Pilkada Damai

debat kandidat nagan raya

Pilkada damai dambaan semua masyarakat Aceh khususnya Nagan Raya, kita sebagai bangsa yang cerdas harus bisa menghargai berbagai perbedaan selera dan gunakan hak pilih Anda pada tanggal 15 Februari 2017.

Sudah saatnya kita sadar, pertengkaran dan permusuhan bukanlah obat untuk ketenangan hati. Renungi dan hayati, sampai kapan kita harus seperti ini? Bersihkan semua kotoran di hati, menuju pilkada damai dan sehat di kabupaten Nagan Raya.

Apakah Anda setuju dengan pernyataan diatas? Silakan share artikel ini. Atau Anda mempunyai perspektif yang berbeda? Mari diskusi di kolom komentar.

Related Posts

Add Comment